1.1
PENGERTIAN
Kesehatan Jiwa adalah Perasaan Sehat dan Bahagia serta mampu mengatasi tantangan hidup,
dapat menerima orang lain sebagaimana adanya serta mempunyai sikap positif
terhadap diri sendiri dan orang lain.
:
Kesehatan jiwa meliputi
·
Bagaimana perasaan anda terhadap diri sendiri
·
Bagaimana perasaan anda terhadap orang lain
·
Bagaimana kemampuan anda mengatasi persoalan hidup anda Sehari - hari.
Beberapa pengertian manusia:
Individu yang
holistik: terdiri dari jasmani dan ‘rohani’.
Terdiri dari
komponen jasmani, akal, jiwa dan qalbu (ruh)
Struktur jiwa
manusia terdiri dari id (insting-prinsip kepuasan), ego (kesadaran
realitas-prinsip realitas), super ego/ moralitas-prinsip moralitas (Teori Freud)
________________________________________________________________
1.2 KRITERIA SEHAT MENTAL MENURUT YAHODA
Sikap positif terhadap diri
sendiri
Tumbuh, berkembang dan aktualisasi
Integrasi : Masa lalu dan sekarang
Otonomi dalam pengambilan kupusan
Persepsi sesuai kenyataan
Menguasai lingkungan : mampu beradaptasi
___________________________________________________________
1.3 RENTANG SEHAT JIWA
Dinamis bukan titik statis
Rentang dimulai dari sehat optimal – mati
Ada tahap-tahap
Adanya variasi tiap individu
Menggambarkan kemampuan adaptasi
Berfungsi secara efektif : sehat
_____________________________________________________
a. Menurut American Nurses Associations (ANA)
Keperawatan jiwa adalah area khusus dalam praktek
keperawatan yang menggunakan ilmu tingkah laku manusia sebagai dasar dan
menggunakan diri sendiri secara teraupetik dalam meningkatkan, mempertahankan,
memulihkan kesehatan mental klien dan kesehatan mental masyarakat dimana klien
berada (American Nurses Associations).
b. Menurut WHO
Kes. Jiwa bukan hanya suatu keadaan tdk
ganguan jiwa, melainkan mengandung berbagai karakteristik yg adalah perawatan
langsung, komunikasi dan management, bersifat positif yg menggambarkan
keselarasan dan keseimbangan kejiwaan yg mencerminkan kedewasaan kepribadian yg
bersangkutan.
c. Menurut UU KES. JIWA NO
03 THN 1966
Kondisi yg memungkinkan perkembangan fisik,
intelektual emosional secara optimal dari seseorang dan perkebangan ini selaras
dgn orang lain.
Keperawatan jiwa adalah pelayanan keperawatan profesional didasarkan
pada ilmu perilaku, ilmu keperawatan jiwa pada manusia sepanjang siklus
kehidupan dengan respons psiko-sosial yang maladaptif yang disebabkan oleh
gangguan bio-psiko-sosial, dengan menggunakan diri sendiri dan terapi
keperawatan jiwa ( komunikasi terapeutik dan terapi modalitas keperawatan kesehatan
jiwa ) melalui pendekatan proses keperawatan untuk meningkatkan, mencegah,
mempertahankan dan memulihkan masalah kesehatan jiwa klien (individu, keluarga,
kelompok komunitas ).
Keperawatan jiwa
adalah proses interpersonal yang berusaha untuk meningkatkan dan mempertahankan
perilaku sehingga klien dapat berfungsi utuh sebagai manusia.
Prinsip keperawatan
jiwa terdiri dari empat komponen yaitu manusia,
lingkungan, kesehatan dan keperawatan.
Manusia
Fungsi seseorang sebagai makhluk holistik yaitu
bertindak, berinteraksi dan bereaksi dengan lingkungan secara keseluruhan.
Setiap individu mempunyai kebutuhan dasar yang sama dan penting. Setiap
individu mempunyai harga diri dan martabat. Tujuan individu adalah untuk
tumbuh, sehat, mandiri dan tercapai aktualisasi diri. Setiap individu mempunyai
kemampuan untuk berubah dan keinginan untuk mengejar tujuan personal.
Setiap individu mempunyai kapasitas koping yang bervariasi. Setiap individu
mempunyai hak untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputuasan. Semua perilaku
individu bermakna dimana perilaku tersebut meliputi persepsi, pikiran, perasaan
dan tindakan.
Lingkungan
Manusia sebagai makhluk holistik dipengaruhi oleh lingkungan dari dalam
dirinya dan lingkungan luar, baik keluarga, kelompok, komunitas. Dalam
berhubungan dengan lingkungan, manusia harus mengembangkan strategi koping yang
efektif agar dapat beradaptasi. Hubungan interpersonal yang dikembangkan dapat
menghasilkan perubahan diri individu.
Kesehatan
Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang menunjukkan
salah satu segi kualitas hidup manusia, oleh karena itu, setiap individu
mempunyai hak untuk memperoleh kesehatan yang sama melalui perawatan yang
adekuat.
Keperawatan
Dalam keperawatan jiwa, perawat memandang manusia secara holistik dan
menggunakan diri sendiri secara terapeutik.
Metodologi dalam keperawatan jiwa adalah menggunakan diri sendiri secara
terapeutik dan interaksinya interpersonal dengan menyadari diri sendiri,
lingkungan, dan interaksinya dengan lingkungan. Kesadaran ini merupakan dasar
untuk perubahan. Klien bertambah sadar akan diri dan situasinya, sehingga lebih
akurat mengidentifikasi kebutuhan dan masalah serta memilih cara yang sehat
untuk mengatasinya. Perawat memberi stimulus yang konstruktif sehingga akhirnya
klien belajar cara penanganan masalah yang merupakan modal dasar dalam
menghadapi berbagai masalah.
Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa Pemberian asuhan keperawatan merupakan
proses terapeutik yang melibatkan hubungan kerja sama antara perawat dengan
klien, dan masyarakat untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal (
Carpenito, 1989 dikutip oleh Keliat,1991).
Perawat memerlukan metode ilmiah dalam melakukan proses terapeutik
tersebut, yaitu proses keperawatan. Penggunaan proses keperawatan membantu
perawat dalam melakukan praktik keperawatan, menyelesaikan masalah keperawatan
klien, atau memenuhi kebutuhan klien secara ilmiah, logis, sistematis, dan
terorganisasi. Pada dasarnya, proses keperawatan merupakan salah satu teknik
penyelesaian masalah (Problem solving).
Proses keperawatan bertujuan untuk memberikan asuhan keperawatan sesuai
dengan kebutuhan dan masalah klien sehingga mutu pelayanan keperawatan menjadi
optimal. Kebutuhan dan masalah klien dapat diidentifikasi, diprioritaskan untuk
dipenuhi, serta diselesaikan. Dengan menggunakan proses keperawatan, perawat
dapat terhindar dari tindakan keperawatan yang bersifat rutin, intuisis, dan
tidak unik bagi individu klien. Proses keperawatan mempunyai ciri dinamis,
siklik, saling bergantung, luwes, dan terbuka. Setiap tahap dapat diperbaharui
jika keadaan klien klien berubah.
Tahap demi tahap merupakan siklus dan saling bergantung. Diagnosis
keperawatan tidak mungkin dapat dirumuskan jika data pengkajian belum ada.
Proses keperawatan merupakan sarana / wahana kerja sama perawat dan klien.
Umumnya, pada tahap awal peran perawat lebih besar dari peran klien, namun pada
proses sampai akhir diharapkan sebaliknya peran klien lebih besar daripada
perawat sehingga kemandirian klien dapat tercapai. Kemandirian klien merawat
diri dapat pula digunakan sebagai kriteria kebutuhan terpenuhi dan / atau
masalah teratasi.
Manfaat Proses Keperawatan Bagi Perawat.
a. Peningkatan otonomi, percaya diri dalam memberikan asuhan
keperawatan.
b. Tersedia pola pikir/ kerja
yang logis, ilmiah, sistematis, dan terorganisasi.
c. Pendokumentasian
dalam proses keperawatan memperlihatkan bahwa perawat bertanggung jawab dan
bertanggung gugat.
d. Peningkatan
kepuasan kerja.
e. Sarana/wahana
desimasi IPTEK keperawatan.
f. Pengembangan
karier, melalui pola pikir penelitian.
Bagi
Klien
a. Asuhan yang diterima bermutu dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
b. Partisipasi meningkat dalam menuju perawatan mandiri (independen care).
c. Terhindar dari malpraktik.
Keperawatan Jiwa merupakan suatu bidang spesialisasi praktik keperawatan yang
menerapkan teori perilaku manusia sebagai ilmunya dan penggunaan diri sendiri
secara terapeutik sebagai kiatnya. Praktik keperawatan jiwa terjadi dalam
konteks sosial dan lingkungan. Perawat jiwa menggunakan pengetahuan dari
ilmu-ilmu psikososial, biofisik, teori-teori kepribadian dan perilaku manusia
untuk menurunkan suatu kerangka kerja teoritik yang menjadi landasan praktik
keperawatan.
Kesehatan jiwa merupakan kondisi yang memfasilitasi secara optimal dan
selaras dengan orang lain, sehingga tercapai kemampuan menyesuaikan diri dengan
diri sendiri, orang lain, masyarakat dan lingkungan, keharmonisan fungsi jiwa,
yaitu sanggup menghadapi problem yang biasa terjadi dan merasa bahagia. Sehat
secara utuh mencakup aspek fisik, mental, sosial, dan pribadi yang dapat
dijelaskan sebagi berikut.Kesehatan fisik, yaitu proses fungsi fisik dan fungsi
fisiologis, kepadanan, dan efisiensinya.
Indikator sehat fisik yang paling minimal adalah tidak ada disfungsi,
dengan indikator lain (mis. tekanan darah, kadar kolesterol, denyut nadi dan
jantung, dan kadar karbon monoksida) biasa digunakan untuk menilai berbagai
derajat kesehatan.Kesehatan mental/psikologis/jiwa, yaitu secara primer tentang
perasaan sejahtera secara subjektif, suatu penilaian diri tentang perasaan seseorang,
mencakup area seperti konsep diri tentang kemampuan seseorang, kebugaran dan
energi, perasaan sejahtera, dan kemampuan pengendalian diri internal, indikator
mengenai keadaan sehat mental/psikologis/jiwa yang minimal adalah tidak merasa
tertekan/ depresi.
Jadi dapat disimpulkan bahwa kesehatan jiwa adalah
bagian integral dari kesehatan dan merupakan kondisi yang memungkinkan
perkembangan fisik, dan sosial individu secara optimal, dan selaras dengan
perkembangan dengan orang lain.
Kesehatan sosial, yaitu aktivitas sosial seseorang. Kemampuan seseorang
untuk menyelesaikan tugas, berperan, dan belajar berbagai keterampilan untuk
berfungsi secara adaptif di dalam masyarakat. Indikator mengenai status sehat
sosial yang minimal adalah kemampuan untuk melaksanakan tugas dan keterampilan
dasar yang sesuai dengan peran seseorang.
Kesehatan pribadi adalah suatu keadaan yang melampaui berfungsinya secara
efektif dan adekuat dari ketiga aspek tersebut di atas, menekankan pada
kemungkinan kemampuan, sumber daya, bakat dan talenta internal seseorang, yang
mungkin tidak dapat/ akan ditampilkan dalam suasana kehidupan sehari-hari yang
biasa.
Menurut pedoman asuhan keperawatan jiwa rumah sakit umum atau pusat
kesehatan masyarakat (puskesmas) sehat pribadi berarti bahwa di dalam diri
seseorang terdapat potensi dan kemampuan untuk memenuhi dan menyelesaikan
dimensi lain dari dirinya, hal yang tidak bersifat instrumental, dan yang
memungkinkan perkembangan optimal seseorang. Indikator minimal dari kesehatan
pribadi adalah ada minat yang nyata terhadap aktivitas dan pengalaman yang
memungkinkan seseorang untuk menembus keadaan “status quo”.
Psikiatri dan kesehatan jiwa Indonesia menggunakan pendekatan
elektik-holistik yang melihat manusia dan perilakunya baik dalam keadaan sehat
maupun sakit, sebagai kesatuan yang utuh dari unsur-unsur organo-biologis
(bio-sistem), psiko edukatif/ psikodinamik (psiko-sistem), dan sosio-kultural
(sosio-sistem).
Pendekatan ini berarti bahwa kita harus dapat melihat kondisi manusia dan perilakunya,
baik dalam kondisi sehat maupun sakit, secara terinci “detail” dalam ketiga
aspek tersebut di atas (ekletik), tetapi menyadari bahwa ketiga aspek tersebut
saling berkaitan dan merupakan satu kesatuan yang utuh sebagai satu sistem
(holistik).
Jadi jelas dengan pendekatan ini kita memperhatikan
faktor psikologis dan sosial atau psikososial di samping faktor biologis di
dalam melaksanakan upaya kesehatan.
Proses keperawatan pada klien dengan masalah kesehatan jiwa merupakan tantangan
yang unik karena masalah kesehaan jiwa mungkin tidak dapat dilihat langsung,
saperti pada masalah kesehatan fisik yang memperlihatkan bermacam gejala dan
disebabkan berbagai hal. Kejadian masa lalu yang sama dengan kejadian saat ini,
tetapi mungkin muncul gejala yang berbeda dan kontradiksi. Kemampuan mereka
untuk berperan dalam menyelesaikan masalah juga bervariasi.
Hubungan saling percaya antara perawat dan klien merupakan dasar utama
dalam melakukan asuhan keperawatan pada klien gangguan jiwa. Hal ini penting karena
peran perawat dalam asuhan keperawatan jiwa adalah membantu klien untuk dapat
menyelesaikan masalah sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Klien mungkin
menghindar atau menolak berperan serta dan perawat mungkin cenderung
membiarkan, khususnya terhadap klien yang tidak menimbulkan keributan dan tidak
membahayakan.
Hal
itu harus dihindari karena :
Belajar menyelesaikan masalah akan lebih efektif jika klien ikut berperan
serta.
Dengan menyertakan klien maka pemulihan kemampuan klien dalam mengendalikan
kehidupannya lebih mungkin tercapai.
Dengan berperan serta maka klien belajar bertanggung jawab terhadap
pelakunya.
Peran
dan Fungsi Perawat Jiwa Defenisi dan Uraian Keperawatan Jiwa
Keperawatan jiwa adalah proses interpersonal yang berupaya meningkatkan dan
mempertahankan perilaku pasien yang berperan pada fungsi yang terintegrasi.
Sistem pasien atau klien dapat berupa individu, keluarga, kelompok, organisasi
atau komunitas. ANA mendefiniskan keperawatan kesehatan jiwa sebagai Suatu
bidang spesialisasi praktik keperawatan yang menerapkan teori perilaku manusia
sebagai ilmunya dan pengunaan diri yang bermanfaat sebagai kiatnya. Praktik
kontemporer keperawatan jiwa terjadi dalam konteks sosial dan lingkungan.
Peran keperawatan jiwa profesional berkembang secara kompleks dari elemen
historis aslinya. Peran tersebut kini mencakup dimensi kompetensi klinis,
advokasi pasien-keluarga, tanggung jawab fiskal, kolaborasi antardisiplin,
akuntabilitas sosial, dan parameter legal-etik.
Center for Mental Health Services secara resmi mengakui
keperawatan kesehatan jiwa sebagai salah satu dari lima inti disiplin kesehatan
jiwa. Perawat jiwa menggunakan pengetahuan dari ilmu psikososial, biofisik,,
teori kepribadian, dan perilaku manusia untuk mendapatkan suatu kerangka berpikir
teoritis yang mendasari praktik keperawatan.
Berikut ini adalah dua tingkat praktik keperawatan klinis kesehatan jiwa
yang telah diidentifikasi.
1. Psychiatric-mental health registered nurse (RN)
adalah perawat terdaftar berlisensi yang menunjukkan keterampilan klinis
dalam keperawatan kesehatan jiwa melebihi keterampilan perawat baru di
lapangan. Sertifikasi adalah proses formal untuk mengakui bidang keahlian
klinis perawat.
2. Advanced practice registered nurse ini
psychiatric-mental health (APRN-PMH)
adalah perawat terdaftar berlisensi yang minimal berpendidikan tingkat
master, memiliki pengetahuan mendalam tentang teori keperawatan jiwa,
membimbing praktik klinis, dan memiliki kompetensi keterampilan keperawatan
jiwa lanjutan. Perawat kesehatan jiwa pada praktik lanjutan dipersiapkan untuk
memiliki gelar master dan doktor dalam bidang keperawatan atau bidang lain yang
berhubungan.
3. Rentang Asuhan Tatanan Tradisional
Untuk perawat jiwa meliputi fasilitas psikiatri, pusat kesehatan jiwa
masyarakat, unit psikitari di rumah sakit umum, fasilitas residential, dan
praktik pribadi. Namun, dengan adanya reformasi perawatan kesehatan, timbul
suatu tatanan alternatif sepanjang rentang asuhan bagi perawat jiwa.
Banyak rumah sakit secara spesifik berubah bentuk menjadi sistem klinis
terintegrasi yang memberikan asuhan rawat inap, hospitalisasi parsial atau
terapi harian, perawatan residetial, perawatan di rumah, dan asuhan rawat
jalan.
Tatanan terapi di komunitas saat ini berkembang menjadi foster care atau
group home, hospice, lembaga kesehatan rumah, asosiasi perawat kunjungan, unit
kedaruratan, shelter, nursing home, klinik perawatan utama, sekolah, penjara,
industri, fasilitas managed care, dan organisasi pemeliharaan kesehatan.
Tiga domain praktik keperawatan jiwa kontemporer
meliputi :
(1) Aktivitas asuhan langsung
(2) Aktivitas komunikasi
(3) Aktivitas penatalaksanaan
Fungsi penyuluhan,
koordinasi, delegasi, dan kolaborasi pada peran perawat ditunjukkan dalam
domain praktik yang tumpang tindih ini.Berbagai aktivitas perawat jiwa dalam
tiap-tiap domain dijelaskan lebih lanjut. Aktivitas tersebut tetap mencerminkan
sifat dan lingkup terbaru dari asuhan yang kompeten oleh perawat jiwa walaupun
tidak semua perawat berperan serta pada semua aktivitas.
Selain itu,
perawat jiwa mampu melakukan hal-hal berikut ini:
Membuat pengkajian kesehatan
biopsikososial yang peka terhadap budaya.
Merancang dan
mengimplementasikan rencana tindakan untuk pasien dan keluarga yang mengalami
masalah kesehatan kompleks dan kondisi yang dapat menimbulkan sakit.
Berperan serta dalam
aktivitas manajemen kasus, seperti mengorganisasi, mengakses, menegosiasi,
mengordinasi, dan mengintegrasikan pelayanan perbaikan bagi individu dan
keluarga.
Memberikan pedoman perawatan
kesehatan kepada individu, keluarga,dan kelompok untuk menggunakan sumber
kesehatan jiwa yang tersedia di komunitas termasuk pemberian perawatan,
lembaga,teknologi,dan sistem sosial yang paling tepat.
Meningkatkan dan memelihara
kesehatan jiwa serta mengatasi pengaruh gangguan jiwa melalui penyuluhan dan
konseling.
Memberikan asuhan kepada
pasien penyakit fisik yang mengalami masalah psiokologis dan pasien gangguan
jiwa yang mengalami masalah fisik.
Mengelola dan mengordinasi
sistem asuhan yang mengintegrasikan kebutuhan pasien, keluarga,staf, dan
pembuat kebijakan.
____________________________________________________________________________
1. 5 PRINSIP-PRINSIP KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA
Roles and functions of
psychiatric nurse : competent care (Peran dan fungsi keperawatan jiwa : yang kompeten).
Therapeutic Nurse patient
relationship (hubungan
yang terapeutik antara perawat dengan klien).
Conceptual models of
psychiatric nursing
(konsep model keperawatan jiwa).
Stress adaptation model of
psychiatric nursing
(model stress dan adaptasi dalam keperawatan jiwa).
Biological context of
psychiatric nursing care (keadaan-keadaan biologis dalam keperawatan jiwa).
Psychological context of
psychiatric nursing care (keadaan-keadaan psikologis dalam keperawatan jiwa).
Sociocultural context of
psychiatric nursing care (keadaan-keadaan sosial budaya dalam keperawatan jiwa).
Environmental context of
psychiatric nursing care (keadaan-keadaan lingkungan dalam keperawatan jiwa).
Legal ethical context of
psychiatric nursing care (keadaan-keadaan legal etika dalam keperawatan jiwa).
Implementing the nursing
process : standards of care (penatalaksanaan proses keperawatan : dengan standar- standar perawatan).
Actualizing the
Psychiatric Nursing Role : Professional Performance Standards (aktualisasi peran keperawatan jiwa:
melalui penampilan standar-standar professional).
__________________________________________________________________________________
1.6 PERKEMBANGAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA
Menangani klien yang memiliki masalah sikap,
perasaan dan konflik
↓
Pencegahan primer
↓
Penanganan multidisiplin
↓
Spesialisasi keperawatan jiwa
DULU :
Pasien Gangguan Jiwa
dianggap sampah, memalukan dipasung
SEKARANG :
- Meningkatkan Iptek
- Pengetahuan masyarakat tentang gangguan jiwa
meningkat
- Perlu pemahaman tentang human right
-
- Penting meningkatkan mutu pelayanan dan
perlindungan konsumen.
______________________________________________________________________
1.7 KONSEPTUAL
MODEL KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA
Tabel 1
Model
|
View of behavioral deviation
|
Therapeutic process
|
Roles of a patient & therapist
|
||
Psychoanalytical
(freud, Erickson)
|
Ego tidak mampu
mengontrol ansietas, konflik tidak selesai
|
Asosiasi bebas &
analisa mimpi
Transferen untuk
memperbaiki traumatic masa lalu
|
Klien: mengungkapkan
semua pikiran & mimpi
Terapist :
menginterpretasi pikiran dan mimpi pasien
|
||
Interpersonal
(Sullivan,
peplau)
|
Ansietas timbul &
dialami secara interpersonal, basic fear is fear of rejection
|
Build feeling
security
Trusting relationship
& interpersonal satisfaction
|
Patient: share
anxieties
Therapist : use
empathy & relationship
|
||
Social
(caplan,szasz)
|
Social & environmental
factors create stress, which cause anxiety &symptom
|
Environment
manipulation & social support
|
Pasien: menyampaikan
masalah menggunakan sumber yang ada di masyarakat
Terapist: menggali
system social klien
|
||
Existensial
(Ellis,
Rogers)
|
Individu gagal
menemukan dan menerima diri sendiri
|
Experience in
relationship, conducted in group
Encouraged to accept
self & control behavior
|
Klien: berperan serta
dalam pengalaman yang berarti untuk mempelajari diri
Terapist: memperluas
kesadaran diri klien
|
||
Supportive
Therapy
(Wermon,Rockland)
|
Faktor
biopsikososial & respon maladaptive saat ini
|
Menguatkan respon
koping adaptif
|
Klien: terlibat dalam
identifikasi coping
Terapist: hubungan yang
hangta dan empatik
|
||
Medical
(Meyer,Kreaplin)
|
Combination from
physiological, genetic, environmental & social
|
Pemeriksaan
diagnostic, terapi somatic, farmakologik & teknik interpersonal
|
Klien: menjalani
prosedur diagnostic & terapi jangka panjang
Terapist : Therapy,
Repport effects,Diagnose illness, Therapeutic Approach
|
_________________________________________________________________
1.8 PERAN PERAWAT KESEHATAN JIWAPengkajian yg mempertimbangkan budayaMerancang dan mengimplementasikan rencana tindakanBerperan serta dlm pengelolaan kasusMeningkatkan dan memelihara kesehatan mental, mengatasi pengaruh penyakit mental - penyuluhan dan konselingMengelola dan mengkoordinasikan sistem pelayanan yang mengintegrasikan kebutuhan pasien, keluarga staf dan pembuat kebijakanMemberikan pedoman pelayana kesehatan___________________________________________
1.9 ASUHAN YANG KOMPETEN BAGI PERAWAT JIWA ( COMPETENT OF CARING )

0 komentar:
Posting Komentar